take it or explode it

Saturday, May 26, 2012

Konser Lady Gaga di Indonesia sebaiknya dibatalkan

9:59 PM Posted by Lily Rofil No comments

Assalamualaikum dan Salam Sejahtera

Di Indonesia sedang heboh kontroversi konser Lady Gaga yang dibatalkan. Konser "Ratu Monster" yang rencananya diadakan pada 3 Juni di Jakarta itu tidak mendapat izin dari Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya. Senada dengan Polda, anggota parlimen Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setuju dan mendukung sikap yang diambil oleh Polda tersebut yang dianggap sebagai salah satu bentuk selektifitas terhadap budaya asing.

"Sikap selektif dan pencegahan terhadap intervensi budaya asing itu harus dilakukan secara tegas dan ukuran pencegahannya juga harus berdasarkan norma hukum yang berlaku dengan dasar Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukumnya," kata anggota Komisi III DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Ahmad Basarah kepada Antara News. Basarah berkata demikian atas asumsi bahawa bangsa Indonesia tengah mengalami krisis jati diri ke-Indonesia-annya.

Rencana diadakannya konser Gaga memang sudah menjadi kontroversi sejak awal. Dimulai dari fatwa  Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan konser penyanyi nyentrik tersebut hingga ancaman Front Pembela Islam (FPI) yang akan membubarkan konser tersebut jika jadi dilaksanakan. Kontroversi ini masih berlanjut hingga sekarang dan masih belum menemui titik terang. Banyak pro dan kontra meliputinya. Ada yang setuju dengan diadakannya konser Lady Gaga, tidak sedikit yang menginginkan konser itu dibatalkan. Saya sendiri, lebih setuju jika konser itu digagalkan.

Banyak alasan mengapa konser Lady Gaga di Indonesia harus dibatalkan. Menurut Indonesian Police Watch (IPW), yang dikutip oleh Kompas.com,  terdapat tiga alasan konser Gaga harus digagalkan. Pertama, Indonesia harus mengacu kepada Undang-undang (UU) Pornografi yang menyangkut semua bentuk pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi dan pornoaksi. Undang-undang ini tidak hanya berlaku kepada warga negara Indonesia (WNI) saja, tetapi juga kepada warga asing yang sepatutnya menghormati Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar sedunia. Kedua, rencana konser Gaga sudah menjadi kontroversi sejak awal yang berpotensi menggugat keamanan dan ketertiban masyarakat serta konflik sosial antarkelompok. Ketiga, adanya politisasi mengenai kontrofersi. Kata Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane, "terbukti, kelompok-kelompok politik sudah ikut cawe-cawe dalam menekan Polri. Padahal, Polri seharusnya profesional dalam menegakkan UU Pornogafi."

Saya pribadi setuju dengan alasan-alasan yang dilontarkan oleh IPW, terutama alasan kedua. Jika konser Gaga dilaksanakan, dikhawatirkan FPI  benar-benar membuktikan ancamannya. Dengan ancaman FPI yang akan membubuarkan Konser Gaga jika konser tersebut diadakan, sudah pasti kekecohan akan berlaku di tempat diadakannya konser tersebut. Akan terjadi konflik fisik maupun psikis antara pendudkung FPI dan pendukung Gaga.Terutama konflik fisik, pertumpahan darah sudah dapat dipastikan berlaku mengingat aksi FPI selama ini dikenal keras dan tidak kenal toleransi.  Konflik ini tentu saja tidak akan berhenti di situ, para pendukung masing-masing pihak akan berseteru bahkan merambah ke jalur hukum.

Untuk alasan ketiga, politisasi kontroversi konser ini, menurut saya, dapat berpotensi adanya tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Bisa saja para kelompok politik tertentu melakukan atau menerima suap demi kepentingan popularitas kelompok politiknya. Selain itu, komentar-komentar mereka yang dimuat atau disiarkan media juga dapat mengaburkan "pandangan" masyarakat.

Menaggapi alasan pertama, saya setuju-tidak setuju tapi lebih berat ke setuju. Memang Lady Gaga dikenal dengan pakaiannya yang selalu terbuka yang boleh dikaitkan dengan pornografi serta pendiriannya yang menganut fahaman satanisme. Karakter Lady Gaga ini dikhawatirkan dapat merusak moral bangsa apalagi penggemar Lady Gaga di Indonesia lebih banyak dari kalangan remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri. Jika jati diri seperti Lady Gaga yang mereka terapkan, maka betullah pendapat Ahmad Basrah bahwa bangsa Indonesia berpotensi mengalami krisis jati diri ke-Indonesia-annya.

Namun perlu digarisbawahi bahwa konser yang mungkin akan berlangsung dua jam saja belum tentu menimbulkan perubahan jati diri yang signifikan. Tanpa adanya konser pelantun Poker Face tersebut sekalipun, para penggemar Lady Gaga  sudah mendapatkan pengukuhan (reinforcement) pengaruh Lady Gaga melalui media terutama Internet. Mereka mungkin sudah terpengaruh dengan idealisme Lady Gaga yang mendukung homoseksualitas dan satanisme bahkan sebelum adanya kontroversi kedatangan Lady Gaga ke Indonesia.

Penggemar Lady Gaga yang kebanyakan masih remaja. Gambar didapat dari Kompas.com
Mengenai potensi pornografi dan pornoaksi yang mungkin ditimbulkan oleh adanya konser Lady Gaga, ini tidak 100 persen benar juga tidak sepenuhnya salah. Banyak kalangan masyarakat menanggapi bahwa dangdut seronok di kawasan lokal tertentu dinilai lebih "panas" berbanding aksi Lady Gaga. Bahkan ini dianggap lebih berbahaya daripada aksi panggung Lady Gaga. Menurut hemat saya, baik Lady Gaga maupun artis dangdut "panas" sama-sama berpotensi menyebarkan pornografi dan pornoaksi sehingga bisa merusak moral bangsa. Bedanya, Lady Gaga mendapat perhatian luas dan liputan di berbagai media karena dia merupakan artis mainstream di dunia bahkan di Indonesia. Konsernya pun diadakan di Jakarta yang notabenennya pusat negara. Jadi wajar jika konser Lady Gaga mendapat banyak kritikan dan kecaman berbanding konser dangdut yang cuma se-level "iwak peyek". Ini juga yang menjadi salah satu alasan munculnya tanggapan dan kebijakan dari  Polda, Polri serta kelompok politik Tanah Air. Sementara itu, konser seronok artis dangdut yang mampu "menggoyangkan" sahwat tidak mendapat tanggapan dari pihak berkuasa mungkin karena sifatnya yang underground atau lebih berada di lingkungan akar-umbi (grassroot) sehingga tidak mendapat liputan meluas oleh media dan tertutup dari tangan kebijakan pihak berkuasa. Memang sudah sifat media yang hanya fokus kepada kejadian di dunia mainstream.

Atas alasan tersebut, banyak anggota masyarakat yang menilai pemerintah tidak adil dalam menegakkan UU pornografi karena pilih kasih melarang konser Gaga dan membiarkan konser dangdut seronok. Dalam pandangan saya, Polri memang belum tegas menegakkan UU pornografi, terbukti masih banyak konser dangdut terselubung yang belum dicekal. Namun bukan berarti kita boleh menghardik Polri atau pemerintah pada umumnya karena menggagalkan konser Gaga. Sebagai warga negara yang baik, seharusnya kita mendukung tindakan pemerintah dalam memerangi pornografi dan pornoaksi. Meskipun belum semua konser yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi mendapat penanganan pemerintah, kita bisa bertindak sebagai pelapor jika memang menjumpai konser sedemikian.

Media juga perlu adil memberitakan perkara-perkara yang menyangkut kepentingan orang awam. Menurut saya, adanya sikap pilih kasih pemerintah dalam menangani kasus pornografi dan pornoaksi dikarenakan pemberitaan media yang juga pilih kasih. Media sebagai pengawas masyarakat dan pemerintah kurang bertindak adil dalam menyediakan informasi yang memberi pencerahan baik kepada pemerintah ataupun mastarakat. Media Indonesia hanya pandai memanfaatkan kedaaan untuk meraup keuntungan korporat. Media Indonesia cuma suka memanas-manasi dan ini sangat bahaya bagi persatuan dan keutuhan negara. Semoga kita semua bisa lebih bijak menilai sesuatu dan dapat menggunakan akal sehat dalam menanggapi sesuatu. Sekian dan terima kasih.

0 comments:

Post a Comment