take it or explode it

Tuesday, May 1, 2012

Perempuan Afganistan ini dipenjara karena diperkosa

9:06 PM Posted by Unknown No comments

Selamat pagi Indonesia,

Sebelumnya, saya mau mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga sektor pendidikan di Indonesia lebih dihargai, dana pendidikan tidak dikorupsi, semua warga mendapat akses pendidikan secara adil dan merata, dan semoga pendidikan Indonesia tambah maju. Yang tidak kalah penting, semoga penyelidikan dan inovasi di bidang pendidikan semakin mendapat prioritas oleh pemerintah dan swasta agar dapat menunjang pembangunan di bidang lainnya seperti sains, teknologi, ekonomi, politik, dan juga sosial. Ini penting agar kita tidak ketinggalan dengan negara maju dan terlepas dari teori serta paradigma primitif yang menterbelakangkan manusia, seperti yang terjadi di Afganistan.

Sebuah peristiwa perampasan nilai hak asasi manusia telah terjadi di Afganistan. Seorang perempuan dipenjarakan karena menjadi korban pemerkosaan oleh suami sepupunya sendiri sampai melahirkan seorang anak. Bahkan anak yang dilahirkan terpaksa dibesarkan di penjara. Perempuan yang bernama Gulnaz itu dijatuhi hukuman penjara 3 tahun, 9 tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa. Dia bisa saja dibebaskan jika mau MENIKAHI SI PEMERKOSA. Dunia sepertinya sudah terbalik atau memang kembali ke kedudukan asal. Seorang korban perkosaan dipaksa menikahi pelaku pemerkosaannya jika tidak mau dipenjarakan. Bukankah seharusnya sudah menjadi tanggungjawab si pemerkosa untuk menikahi si korban? Mengapa menjadi terbalik seperti ini? Sungguh tidak adil sekali bagi perempuan ini.

Korban bersama anaknya di penjara. Meskipun dia sudah memilih untuk menikahi pemerkosanya, dia tetap dipenjarakan. 

Kenapa dia dipenjarakan sedangkan dia yang merugi? Ini karena hukum primitif di negara konflik itu yang masih menganggap perkosaan adalah peristiwa perzinaan yang membawa aib kepada keluarga dan masyarakat. Mengapa dia yang dianggap membawa aib? Bagaimana dengan pelaku pemerkosaan sendiri? Apakah dia dianggap dikenakan aib? Sungguh tidak masuk akal waras. Jika memang pemerkosaan itu suatu perzinaan yang membawa aib kepada masyarakat, mengapa itu harus terjadi? Mengapa lelaki bangsat itu harus melakukan perkosaan jika dia dan masyarakatnya tidak mau kena aib? Bukan keinginan perempuan itu untuk diperkosa dan memalukan keluarga serta masyarakatnya. Dia murni tidak bersalah. Dialah korban. Mengapa dia yang perlu menanggung hukuman? Seharusnya pemerkosa laknat itu yang dihukum seberat-beratnya karena dia telah merampas keperawanan seorang perempuan yang masih keluarganya sendiri. Dia juga yang menyebabkan aib keluarganya. Kenapa dia dibiarkan bebas?

Jika sudah hukumnya si korban pemerkosaan harus menikahi si pemerkosannya, maka tidak akan heran jika nanti dalam rumah tangga si pemerkosa akan bertindak semena-mena terhadap si korban. Ini karena si pemerkosa menganggap dirinya diperlukan sehingga dia merasa superior terhadap si korban. Maka tidak dapat dipungkiri kekerasan terhadap wanita dalam rumah tangga akan terjadi. Dan perempuan selamanya akan tertindas jika hukum seperti ini masih dibiarkan.

Sungguh dunia kejam terhadap perempuan. Kejadian-kejadian seperti inilah yang tidak saya sukai. Ini sungguh bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Ini diskriminasi gender. Laki-laki bebas melakukan kejahatan kemanusiaan tanpa hukuman yang mengancam sementara perempuan dianggap mendurhaka jika menuntut keadilan. Semoga ini tidak terjadi di negara Indonesia. Semoga.

Sumber: kompas

Hari Buruh Sedunia dan demonstrasi di Indonesia, wajarkah?

10:24 AM Posted by Lily Rofil No comments
Salam bulan Mei

Tidak terasa bulan April sudah resmi berakhir digantikan oleh bulan Mei yang diawali dengan Hari Buruh Sedunia (HBS) atau lebih dikenali sebagai May Day.

Setiap tahun peringatan HBS ditandai dengan hari libur sehari baik bagi golongan buruh maupun golongan bukan buruh, termasuk para pelajar. Banyak yang menggunakan kesempatan hari libur ini untuk bersantai bersama keluarga, berlibur ke tempat pariwisata, bertemu kawan lama, dan tidak jarang juga dijadikan sebagai momentum untuk berdemonstrasi.

Gambar ilustrasi

Tidak dipungkiri lagi, setiap tanggal 1 Mei pasti ada demonstrasi jalanan dilakukan oleh beberapa kelompok buruh terutama di negara berkembang yang mana sektor buruh masih tinggi. Di Indonesia saja, hari ini jalan menuju Bandara Soekarno Hatta lumpuh disebabkan blokade oleh ribuan buruh yang menuntut pemerintah menghapus sistem kerja kontrak dan upah murah. Mereka melakukan aksi blokade dengan cara memarkir sepeda motor di Jalan Thamrin sehingga arus lalu lintas macet total. Akhirnya, polisi dan petugas dari Dinas Perhubungan Kota Tangerang terpaksa merayu mereka untuk membuka jalan demi kepentingan pengguna jalan yang lain, tetapi para buruh masih bersikukuh.

Ada juga golongan buruh yang memilih untuk berhimpun secara damai melalui rapat akbar seperti yang dilakukan oleh puluhan ribu buruh di Jawa Barat dan Jabodetabek. Para buruh yang berasal dari berbagi perserikatan buruh ini mengadakan orasi di stadiun Gelora Bung Karno menuntut perbaikan kesejahteraan buruh melalui upah minimum kota/kabupaten (UMK) dan upah minimum sektoral (UMS). Mereka juga menuntut agar sistem outsourcing dan kerja kontrak dihapuskan. Aksi ini relatif aman dan terkendali dengan adanya persembahan hiburan oleh grup band Slank.

Lain di Jakarta lain pula di kota lain. Dalam rangka memperingati HBS, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Mahasiswa Universitas Gajah Mada bersama-sama dengan masyarakat Jogja berdemo di depan gedung DPRD Jogjakarta. Sama halnya dengan tuntutan demo di Jakarta, mereka menyeru agar sistem outsourcing ditiadakan dan buruh diberi upah yang layak. Di Kediri pula, sekitar 400 pekerja pabrik rokok PT Topten Tobacco berunjuk rasa di depan gedung DPRD untuk menyerukan tuntutan yang sama.

Mengapa HBS selalu diwarnai dengan demonstrasi? Walaupun demonstrasi peringatan HBS tahun ini dilaporkan relatif aman dibanding tahun-tahun sebelumnya, mengapa tetap terjadi demonstrasi oleh para buruh dengan jumlah dan intensitas yang signifikan di negara kita? Tidak lain, ini disebabkan oleh tingkat kesejahteraan buruh di Indonesia yang masih rendah dan tidak mendapat sentuhan keprihatinan dari pemerintah secara sewajarnya. Suara mereka dibungkam atas ancaman pemecatan. Ini seperti yang terjadi di Bandar Lampung di mana banyak buruh takut bergabung perserikatan buruh dan turun ke jalan untuk berunjuk rasa karena sudah banyak terjadi pemecatan kepada buruh yang berani menuntut banyak. Upah minimum yang mereka terima juga masih rendah dan tidak sebanding dengan biaya hidup yang perlu dikeluarkan, terutama bagi para buruh di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Contohnya saja UMK Surabaya, di kota metropolitan ini, gaji minimum yang diterima buruh masih kurang dari 1,5 juta rupiah sebulan. Padahal melihat gaya hidup perkotaan yang dipamerkan, gaji sebanyak itu tidak akan mencukupi untuk makan sekeluarga. Belum lagi untuk urusan pendidikan dan kesehatan.

Jika memang pemerintah belum bisa memberi gaji yang layak bagi buruh, pemerintah seharusnya menyediakan lebih banyak fasilitas publik secara cuma-cuma. Untuk pendidikan dan kesehatan, misalnya, dua aspek penting masyarakat awam ini seharusnya menjadi tanggungan pemerintah sepenuhnya. Ini supaya keluarga berpendapatan rendah tidak terpaksa mengorbankan pendidikan dan kesehatan demi memenuhi keperluan hidup lainnya. Kesehatan diperlukan untuk kelangsungan hidup. Pendidikan sangat penting bagi pembangunan sumber daya manusia di negara. Namun perlu digarisbawahi juga bahwa lapangan pekerjaan juga harus seimbang dengan jumlah manusia terdidik agar mereka tidak terpaksa menjadi buruh kelak setelah menamatkan pendidikan. Ini penting agar lingkaran buruh dapat diminimalisir sehingga negara kita dapat menumpukan perhatian untuk melahirkan tenaga profesional.

Banyak negara yang sudah beralih kepada penyediaan tenaga profesional. Sebut saja Malaysia, sektor perburuhan tidak lagi diisi oleh rakyatnya sendiri. Malah sektor ini diambil alih oleh "buruh ekspor" dari negara-negara tetangga, termasuk dari Indonesia. Walaupun minim kebajikan, para buruh ini masih bisa menikmati upah minimum yang cukup tinggi dibanding upah minimum di negara asalnya. Gaji minimum di semenanjung Malaysia untuk sektor ekonomi adalah sekitar 2.75 juta rupiah sebulan. Ini berlaku untuk rakyat Malaysia dan juga pekerja asing di negara Menara Kembar tersebut. Khususnya bagi rakyat Malaysia, kebajikan publik sangat diperhatikan oleh pemerintah melalui pendidikan gratis sampai lulus sekolah menengah dan biaya pengobatan yang sangat murah. Tidak heran jika demonstrasi pada HBS sangat jarang terjadi di Malaysia.

Jika pemerintah Indonesia lebih memperhatikan nasib buruh dan rakyat Indonesia pada umumnya dengan memajukan infrastruktur awam dan pemberian layanan publik secara optimal, hal-hal seperti demonstrasi untuk melepaskan kekecewaan atau menyampaikan tuntutan dapat dikurangi. Perlu adanya inisiatif positif dari pihak pemerintah untuk memenuhi tuntutan para buruh agar nasib mereka lebih sejahtera dan tidak terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Sektor lapangan pekerjaan perlu juga dimajukan agar rakyat Indonesia tidak perlu bersusah payah ke luar negara untuk menjadi buruh yang berpotensi berhadapan dengan masalah sosial dan kemanusiaan. Harapannya, Indonesia bisa menjadi lebih baik dengan pemerintahan yang bersih dari korupsi dan rakyat, terutama golongan minoritas, mendapat kesejahteraan yang layak.


sumber:
MetroTV
Kompas
Antaranews
Jakpost

Saturday, April 28, 2012

Tidak hanya Muslim yang mengecam Lady Gaga

3:06 AM Posted by Unknown No comments
Selamat sore teman,

Sore yang cukup panas di sini. Panas hawanya juga panas suasananya. Demonstrasi Bersih 3.0 di pusat Kuala Lumpur belum bubar lagi. Masih membara emosinya juga di sana. Namun ada baiknya kita lupakan sejenak urusan politik ini dan bersantai sore dengan satu topik ringan tentang penerimaan masyarakat ke atas penampilan Lady Gaga.

Dua petugas penjualan tiket konser Lady Gaga di Jakarta ber-make-up seram meniru idolanya.
Ada kabar di Indonesia bahwa Lady Gaga akan mengadakan konsernya di Jakarta pada Juni mendatang. Kontroversi mengenai kedatangan penyanyi nyentrik ini pun santer dikabarkan di media. Ada yang menanti-nantikan penyanyi "Poker Face" ini datang. Ada pula yang menentang. Salah satu institusi yang menentang kedatangan Lady Gaga adalah Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang memfatwakan haram bagi sesiapa yang menonton konser Lady Gaga.

Ketika berita ini di-pos di Kaskus, saya baca banyak karkuser yang menentang fatwa MUI ini. Katanya MUI terlalu sibuk mengurusi urusan kebebasan berekspresi seseorang. Ada juga yang mengatakan fatwa MUI hanya untuk rakyat Indonesia yang beragama Islam. Yang tidak Islam boleh saja menonton. Jadi ini masalah kepercayaan, bagi mereka.

Bagi saya, ini tidak hanya masalah kepercayaan dan bukan hanya Islam saja yang menentang penampilan Lady Gaga. Tidak peduli apa agamanya, penampilan Lady Gaga dinilai terlalu melanggar norma dan nilai moral. Walaupun saya liberal, saya tidak suka penampilan Lagy Gaga. Bajunya yang terlalu ketat dan buka-bukaan dipandang tidak etis untuk budaya timur maupun budaya lain di belahan dunia manapun. Bukan hanya baju, pembawaan diri Lady Gaga juga terlalu frontal dan bertentangan dengan adat budaya serta kepercayaan agama di Timur. Kepercayaan yang dianut Lady Gaga pun sama sekali tidak bisa ditolerir karena dia tidak menyembah Tuhan. Dia penganut satanic yang merupakan musuh bagi segala agama di dunia. Jadi tidak heran MUI dan umat Muslim taat sangat menentang kehadiran Lady Gaga di Indonesia.

Jika penentangan terhadap Lady Gaga di Indonesia dilihat lebih dilakukan oleh umat Muslim, di negara lain yang bukan negara majoritas rakyatnya beragama Islam juga menentang Lady Gaga. Agama Kristen, misalnya, baik di Barat sendiri maupun di Timur juga menentang penampilan Lady Gaga. Sebut saja negara Korea Selatan yang baru-baru ini menjadi tempat Lady Gaga menggelar konser World Tour-nya. Beberapa kelompok umat Kristen konservatif menentang kehadiran Lady Gaga karena dia dianggap mempromosikan pornografi dan homoseksualitas. Kelompok Kristen konservatif ini juga sempat menggelar aksi protes. Hasilnya, pemerintah Korea hanya memperbolehkan pemuda yang sudah berumur 18 tahun ke atas yang boleh menonton konser tersebut.

Ini bukti jelas bahwa tidak hanya Islam yang menentang Lady Gaga. Penampilan dan pembawaan Lady Gaga yang terlalu berlebihan dan tidak sejalan dengan nilai dan norma sosial masyarakat menjadi pertimbangan bagi para pemuka agama dan masyarakat untuk memboikot Lady Gaga. Yang jelas, sebagai figur publik yang berpotensi menjadi panutan masyarakat, Lady Gaga dinilai tidak sesuai untuk masyarakat Muslim, terutamanya di Indonesia.

*sumber:
Jakpost
Vivanews
Tribunnews


Friday, April 27, 2012

STOP CHILD ABUSE NOW!

1:05 PM Posted by Lily Rofil No comments

Hi readers,

We, even once, ever watch or hear about child abuse, don't we? How do you feel when you see a child gets abused? How do you feel when you are exactly that child? Let's think about it.

Children are small angels that God gives us. We have to protect them instead of abusing them. When we see they are smiling, don't we feel happy? When we see they are growing very well, don't we get excited? They can be a source of happiness in a family, so why does child abuse exist even in a family?

A boy gets beaten by his mother or his father. A girl gets raped by her own uncle. A boy and a girl who are abandoned by their own parents and live on streets. Sky becomes their roof. Earth becomes their mat. They eat others' leftover. A child that is treated like a dog. A child that is always left at home alone. All these cases can be counted as child abuse. Are we willing to see it every day in our lives?

Children are human beings too. But why there are certain people treat them like animals? They have to work very hard like an adult just to support their parents or just to make their parents or their guardians do not beat them. They are prohibited to eat just because they are not intentionally pour hot tea on their parents' fancy clothes. They get scolded because they do not get A in Math class. Those do not make sense. Those are cruel, very very cruel.

Children are just children. They are lack of life experiences but they can feel. They can feel someone doesn't like them. They can feel how to make other people, especially their parents, happy. They can feel what their parents feel. So, if they get beaten, treated like a chicken, tortured, raped, they may feel they are not welcome to this world. They will absolutely feel depressed deep in their heart.

They may not know how to tie their shoe-laces. We know, so why don't we help them and teach them properly instead of kicking them? They may not know how to use spoons. We know, so why don't we feed them and give them try using spoons little by little instead of let them died because of famine? They may know what are their sexual organs use for. We know so we should tell them that their sexual organs must not be seen, touched, or tortured by other people including their closest relatives.

We adults are mature than they are. We are clever than they are. We know everything better than they do. We can think clearer than they do. So, starting from now, we must promise to ourselves that we do not want child abuse to happen in our surrounding again.

It can be started from me. I, Lily, promise myself not to want child abuse happen in my surrounding. I do not want girls to get raped. I do not want boys wandering on streets to ask for coins. I do not want girls to be traded like economic commodity. I do not want girls to serve adult sex need. I do not want children to drop out from schools. I do not want children to hold weapons to protect their country. The country must protect them instead. I do not anything related to abusing children to happen to them. I want children live happily as they have to be. I want children to grow up properly. That's why, I raise my hands and yell it loud: STOP CHILD ABUSE NOW!

Perempuan makhluk yang selalu disalahkan

7:22 AM Posted by Lily Rofil , 5 comments
Hai wanita, dan juga lelaki di luar sana.

Disadari atau tidak, kalian pernah menuding jari ke wanita
(atau ke diri sendiri, bagi kalian yang merasa wanita),
atas sebuah kesalahan, yang memang dilakukan atau tidak.
Ya, wanita memang tidak pernah lepas dari rasa bersalah.
Semua yang terjadi,
jika itu suatu kesalahan, atau kecacatan,
wanita yang akan disalahkan.
jadi, di bagian hidup manakah wanita tidak bersalah?

Bahkan sejak dilahirkan, perempuan sudah bersalah karena dia perempuan.
“Ah, mengapa anakku tidak laki-laki? Siapa yang akan kasih makan aku nanti?”
pertanyaan klasik dari seorang ayah, yang merupakan seorang lelaki,
atau juga ibu, yang tidak sadar bahwa dia juga perempuan.

Ketika dia remaja, dia dipersalahkan atas krisis moral yang melanda masyarakatnya.
“Jangan keluar malam, ada dunia buas di luar sana!”
“Jangan pakai rok pendek, nanti mengundang nafsu lelaki hidung belang!”
“Salah KAU berpakaian terlalu seksi. Sekarang keperawanannmu telah direnggut lelaki itu.”
“Perempuan tak baik marah-marah!”
“Jalan pelan-pelan, nggak baik dilihat orang!”
“Pelankan suara! Perempuan ngomongnya harus lemah lembut.”
“Buat apa bertanding untuk menjadi ketua kelas? Biarkan lelaki saja yang memimpin. Itu memang sudah kodratnya.”

Mengapa?
Mengapa dunia di luar sana perlu membuaskan diri jika wanita keluar malam?
Mengapa nafsu lelaki hidung belang harus terundang jika melihat wanita memakai rok pendek?
Apakah perkosaan itu harus terjadi setiap kali wanita berpakaian seksi? Ada undang-undangnya?
Kalau memang harus marah, so what? Toh marah itu sebagian dari proses hormonisasi tubuh kita.
Terus kalau wanita dikejar anjing, digigit dan mati, dia dianugerahkan gelar pahlawan karena telah berbuat “baik”?
Dan kalau lelaki meninggikan suara itu suatu pertanda yang baik? Mengapa?
Kodrat mana yang memihak wanita kalau begitu?

Pada dasarnya perempuan memang sinonim dengan salah.
Ketika ayahnya tidak mampu membiayainya pergi ke sekolah, dia salah.
Ketika mahkotanya direnggut di usianya yang masih belasan tahun, dia salah.
Ketika kawin, dia salah.
Tidak kawin, apalagi? Salah dia juga.
Ketika suaminya menganiayanya, dia salah.
Ketika suaminya menceraikannya, dia salah.
Ketika anaknya terlantar, salah dia.
Dia sukses, dia salah.
Dia tidak sukses, dipersalahkan juga.
Berbuat baik, salah!
Berbuat salah, makin salah!
Dan adakah waktunya perempuan dianggap tidak bersalah?

Mungkin…
Mungkin ada ketika dia diam di dalam rumah, mendengar dongeng, menjahit, dan memasak.
Mungkin ketika dia diam saat ayahnya, abangnya, pamannya, atau bahkan kakeknya, orang asing baginya, merabah tubuh telanjangnya.
Mungkin ketika dia diam saat ahli politik mengambil semua hak bersuaranya.
Mungkin ketika dia diam saja ketika orang memarahinya.
Mungkin ketika dia diam sewaktu tanahnya dirampas, begitu juga dengan harta bendanya.
Mungkin ketika dia diam setelah suaminya menyimbah asam ke muka cantiknya.
Mungkin ketika dia menunduk ketika sekeliling mencemoohnya.
Mungkin ketika… ketika dia mati memeluk anaknya yang menangis kesakitan.

Dunia tidak adil bagi wanita. DUNIA, aku kata.
Dunia.
Dunia yang dicipta Tuhan
Tapi dibangun lelaki.
Dunia yang terlalu salah bagi wanita untuk bertahan hidup.
Dunia yang seharusnya nature, tapi hakikatnya culture.
Dunia yang seharusnya memihak pada perempuan, gadis, wanita, ibu, nenek.
karena dunia dimiliki oleh ibu pertiwi, ditemukan oleh nenek moyang,
diasuh oleh tangan-tangan lembut perempuan desa.
Lantas, mengapa perempuan masih dipersalahkan?