take it or explode it

Showing posts with label Philosophy. Show all posts
Showing posts with label Philosophy. Show all posts

Tuesday, December 23, 2014

Isu yang sama setiap tahun: Boleh nggak sih Muslim ucapkan "Selamat Natal"?

9:50 PM Posted by Unknown , 1 comment
Assalamualaikum dan salam sejahtera.

Setiap tahun, menjelang natal, isu hukum mengucakpan "Selamat Hari Natal" atau "Merry Christmas" bagi penganut agama Islam selalu menjadi perdebatan di negara-negara mayoritas seperti di Indonesia dan di Malaysia. Berita-berita di media massa juga tidak luput membahas perdebatan ini yang kemudian dikomentari dengan berbagai pendapat. Ada yang mengatakan haram. Ada yang setuju hal itu boleh dilakukan oleh Muslim. Yang pasti perdebatannya selalu diwarnai bumbu-bumbu menyinggung SARA dan ada kecenderungan saling memburukkan masing-masing agama. 

Pertanyaan saya, sampai kapan kita akan berdebat isu yang berpotensi memecah belah rakyat majemuk di negara kita? 

Sejak dua hari yang lalu saya perhatikan di media online memang sudah terlihat perpecahan umat karena perkara ini. Bukan hanya Muslim lawan non-Muslim, tetapi sesama Muslim juga saling menghina karena perbedaan pendapat. Saya pun gatal rasanya ingin ikut berkomentar di salah satu media berita online Indonesia yang tengah membahas isu ini. Namun, saya urungkan karena debat-debat online sebegitu tak lebih dari debat kusir yang tidak ada solusinya. Pagi ini pula saya tidak sengaja baca headline di salah satu koran Malaysia yang juga tengah membahas isu ini. Akhirnya saya putuskan untuk ikut berpendapat juga mengenai isu tersebut melalui blog saya ini. 

Sebelum kita bahas hukumnya, mari kita jabarkan dulu akar permasalahannya. Kalau saya perhatikan setiap tahun, yang didebatkan di sekitar isu ini adalah seperti berikut:

1. Umat Kristen tidak "mengemis" ucapan "Selamat Hari Natal" dari umat Islam. Yang mereka herankan, kenapa Muslim dilarang memberi ucapan tersebut, sedangkan mereka dengan bebas (dan ikhlas) mengucapkan "Selamat Idul Fitri" kepada masayarakat Muslim yang merayakan lebaran.

2. Sikap pelarangan pemberian ucapan "Selamat Hari Natal" yang ditunjukkan pemimpin dan penganut Muslim disalah artikan sebagai sikap tidak toleransi agama, baik oleh sesama Muslim atau non-Muslim.

3. Beberapa peristiwa pengeboman di gereja-gereja Indonesia pada saat perayaan Natal memberi kesan seolah-olah Muslim benci Kristen dan perayaan Natal.

4. Sesama Muslim pun masih debat tentang hukumnya dan malah saling menjelek-jelekkan pribadi masing-masing dan kadang-kdang menjurus pada penistaan agama.

Baiklah, sekarang kita bahas setiap poin yang menjadi pokok permasalahan isu ucapan Natal ini. 

1. Mengapa "Ucapan Natal" ada hukum dan menjadi perdebatan di kalangan umat Islam
Sebagai umat Islam, saya yakin umat Kristen tidak memaksa Muslim untuk mengucapkan "Selamat Hari Natal" kepada mereka. Saya sendiri berkeyakinan bahwa penganut Kristen juga tidak diwajibkan mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri/Idul Adha" kepada Muslim. Sayapun tidak memaksa teman-teman non-Muslim saya untuk memberi ucapan tersebut. Yang menjadi masalah, kenapa Ucapan Natal mempunyai "hukum" dan menjadi isu dalam Islam? Ini yang perlu kita jelaskan kepada teman-teman non-Muslim kita. 

Bagi yang kontra Ucapan Natal, pegangannya ini:

Saya petik dari EraMuslim

Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan para pengikutnya seperti Syeikh Ibn Baaz, Syeikh Ibnu Utsaimin—semoga Allah merahmati mereka—serta yang lainnya seperti Syeikh Ibrahim bin Muhammad al Huqoil berpendapat bahwa mengucapkan selamat Hari Natal hukumnya adalah haram karena perayaan ini adalah bagian dari syiar-syiar agama mereka. Allah tidak meredhoi adanya kekufuran terhadap hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya didalam pengucapan selamat kepada mereka adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan mereka dan ini diharamkan.

Dalam Al-Quran dijelaskan:

Dan mereka berkata, "Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar, Hampir saja langit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu),  Karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak (Quran Surat Maryam: 88-92).

Menurut petikan Quran di atas, sudah jelas bahwa Tuhan bagi Islam sifatnya Esa, hanya Allah. Dan Allah (SWT) tidak beranak. Sedangkan perayaan Natal dimaksudkan untuk merayakan kelahiran Jesus, yang dipercayai oleh umat Kristen sebagai anak Allah. Jadi memeberi ucapan "Selamat Hari Natal" dianggap ikut mengimani kepercayaan Kristen ini dan ini boleh merusak akidah umat Muslim.

Saya yakin setiap tahun penjelasan ini sudah banyak dijabarkan oleh pemuka agama Islam baik di forum-forum dialog atau di media massa. Dan saya rasa non-Muslim pun pernah dengar penjelasan ini. Bagi non-Muslim (dan Muslim) yang faham, mereka boleh terima. Yang jadi masalah, kadang penjelasan ini belum masuk nalar logika mereka sehingga mereka menganggap Islam tidak toleransi. Ini wajar. Toh masih banyak juga Muslim yang tidak menerima penjelasan ini secara logika. Bagi saya, masalah keyakinan kadang tidak dapat dijabarkan melalui logika. Yang penting, kita hargai prinsip masing-masing dan jangan saling menghina dan menistakan agama. 

2. Tidak mengucapkan "Selamat Hari Natal" = Tidak bertoleransi agama?
Pendapat ini lucu sekali. Apakah toleransi hanya berdasarkan ucapan-ucapan semata? Bagi saya, toleransi harusnya ditunjukkan melalui sikap saling menyayangi sesama manusia walaupun berbeda agama. Kalau saudara Kristen kita sakit, kita jenguk, berkawan dan menerima teman non-Muslim apa adanya, membantu teman non-Muslim yang sedang kesusahan merupakan contoh-contoh toleransi beragama. Memberi kesempatan teman non-Muslim untuk melakukan ibadah agamanya juga termasuk sikap toleransi. Toleransi tidak harus berupa "ucapan Natal" atau "ucapan Lebaran". 

Buat apa mengucapkan selamat Hari Natal kepada kawan Kristen pada perayaan Natal tapi pada hari lain masih suka mengumpat mereka di belakang? Buat apa sekedar basa-basi memberi ucapan Natal di media sosial kalau hari-hari biasa kita tidak bertegur-sapa dengan mereka, menjauhi mereka?

Ketika SMA, saya berteman dekat dengan seorang penganut Protestan. Kami berkawan baik. Kalau saya balik ke Indonesia, kami temu kangen. Waktu SMA dulu kita satu geng tiga orang: Saya, dia, dan satu lagi teman Muslim. Saya dan teman saya Muslim satunya pakai jilbab. Kami bertiga selalu satu kelompok, janjian keluar main bersama, bolos sekolah dan daftar ekskul bersama dan banyak lagi. Pokoknya kita "best friend" lah istilahnya. Tapi kita tahu batasan agama masing-masing. Sekolah kami full-day. Waktu istirahat siang, teman Protestan kami menunggu kami di depan masjid sementara kami solat Dzuhur. Hari Minggu kami ada kerja kelompok, kami tunggu dia sampai selesai kebaktian di gereja. Ketika perayaan agama masing-masing, dia tidak mengucapkan "Selamat Idul Fitri" kepada kami yang Muslim, dan kami pun tidak memberi ucapan Natal kepadanya ketika musim Natal. Kebetulan dia memang faham hukum memberi ucapan Natal dalam Islam. Inilah bentuk toleransi kami. Walaupun kami tidak mengucapkan selamat hari raya agama masing-masing, kami tetap berteman baik sampai sekarang.  

Ketika kuliah di Malaysia, teman satu kamar saya penganut Katolik. Dia faham prinsip yang dianut sebagian Muslim yang tidak mengucapkan "Selamat Natal". Walaupun dia masih mengucapkan "Selamat Idul Fitri/Adha" dan ikut merayakannya di rumah orang tua saya, dia tidak tersinggung ketika saya dan teman sekamar kami lainnya yang Muslim tidak memberi Ucapan Natal. Kami bertiga sama-sama mahasiswa rantau dari Indonesia yang tahu toleransi agama. Pada perayaan Krismas tahun lalu, kami (yang Muslim) memang tidak mengucapkan "Selamat Hari Natal" kepadanya tetapi  kami mengingatkan dia untuk pergi ke gereja. (Dia juga sering mengingatkan kami untuk solat). Dia sendiri orangnya pemalu dan takut pergi ke gereja sendiri. Kami pun menawarkan untuk mengantar dia ke gereja terdekat dari rumah kontrak kami, tetapi dia menolak dengan alasan tidak mengenal dan tidak terbiasa dengan jemaat di gereja tersebut. 

Walaupun kami yang Muslim tidak memberi ucapan Natal kepadanya, apakah dia membenci kami? Apakah kami tidak bisa berkawan baik? Sampai sekarang kami masih bercanda-tawa bersama.

Masih banyak bentuk toleransi yang biasa kita tunjukkan untuk teman non-Muslim. Bagi teman non-Muslim, jika kami tidak mengucapkan "Selamat Natal" bukan berarti kami tidak toleransi. Kami punya prinsip yang kami yakini. Kami tidak membenci anda dan agama anda. Saya pribadi mempersilahkan dan menghormati ibadah teman non-Muslim.

3. "Bom gereja" = penolakan Islam terhadap Kristianiti?
Saya prihatin dan menyesal setiap kali mendengar tempat ibadah dibom, dihancurkan, diserang. Dan kebanyakan kejadian yang di-blow-up di media melibatkan Muslim yang menyerang tempat ibadah umat lain terutama Kristen. Saya berkeyakinan, mereka yang mengebom gereja ini tidak mewakili Islam dan Muslim keseluruhannya. Mereka cuma terlalu bernafsu "ingin masuk surga" dan mewakili aliran sesat mereka sendiri. Islam merupakan agama yang menjunjung toleransi dan perdamaian. Islam tidak mengizinkan umatnya membunuh manusia tidak bersalah (secara kemanusian) dan yang tidak memusuhi Islam.  Jadi peristiwa "bom gereja" ini tidak mewakili Islam dan Muslim karena kami masih toleransi terhadap adanya Kristianiti. 

4. Sesama Muslim pun masih debat tetang hukum Ucapan Natal.
Antara orang Islam pun masih berdebat apakah mengucapkan "Selamat Natal" haram dalam Islam. Memang ada yang mengharamkan dan menganut prinsip tersebut seperti yang dijelaskan di atas. Namun ada juga yang tidak mempermaslahkan Ucapan Natal atas dasar toleransi dan kasih sayang. Berikut pendapat golongan Muslim Pro-Ucapan Natal:

Ulama kontemporer seperti Syeikh Yusuf al Qaradhawi membolehkan pengucapan Selamat Natal apabila mereka (orang-orang Nasrani atau non muslim lainnya) adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin, terlebih lagi apabila ada hubungan khsusus antara dirinya (non muslim) dengan seorang muslim, seperti : kerabat, tetangga rumah, teman kuliah, teman kerja dan lainnya (Dikutip dari EraMuslim).

Telah dijelaskan dalam Quran:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

"Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (QS. An Nisaa : 157)

Jadi bagi golongan Pro-Ucapan Natal, mengucapkan "Selamat Hari Natal" boleh-boleh saja untuk menunjukkan rasa toleransi adil dan kasih sayang. Walaupun saya termasuk yang memgang prinsip Kontra Ucapan Natal, saya tidak membenci Muslim golongan Pro-Ucapan Natal. Saya menghargai prinsip mereka. Tapi yang saya sedih kalau saya perhatikan di media sosial, sesama umat Muslim bertengkar karena perbedaan prinsip ini. Yang Kontra Ucapan Natal meragui ke-Islam-an golongan satunya. Yang Pro-Ucapan Natal menghina "Islam-nya" golongan lainnya. Sebetulnya hal itu tidak perlu terjadi. 

Yang mau mengucapkan "Selamat Natal" ya silakan, tidak perlu gembar-gembor menyalahkan dan meng-kuno-kuno-kan golongan Kontra Ucapan Natal. Yang tidak setuju Ucapan Natal, sebaiknya diam saja dan tidak perlu memperdebatkan isu ini jika niatnya ingin memaksakan kehendak dan pendapat. Setiap Muslim ada pemahaman tentang Islam tersendiri dan hanya Allah yang berhak "judge" apakah dia berdosa atau tidak, murtad atau tidak. kalau sekedar mau mengingatkan, sebaiknya pakai bahasa yang sopan karena kita mewakili agama kita. Jika kita "berdakwah" Islam dengan cara yang kasar, orang lain akan menganggap agama kita yang salah. 

Intinya, jangan sampai perbedaan pendapat memecahkan kita sesama umat beragama dan kita sesama rakyat Indonesia. Kalau bisa, kita tidak perlu mendebatkan isu ini lagi pada masa hadapan. Saya yakin umat Kristen tidak mempermasalahkan kalau kita tidak mengucapkan Selamat Natal. Toh mereka tidak haus akan perhatian itu. Yang mereka inginkan cuma perayaan Natal yang damai dan kita sebagai umat Islam yang bertoleransi dan meyakini ayat-ayat Quran seharusnya membantu memnyediakan suasana damai itu seperti mana kita mengaharapkan kedamaian di hari Fitri. 

Berikut tips yang bisa saya bagi untuk sesama Muslim yang masih "blur" tentang isu ini:

1. Kalau kita yakin memberi Ucapan Natal boleh merusak akidah kita, kita sebaiknya diam dan memperdalam iman untuk membentengi akidah kita sendiri. Tidak perlu berlarut-larut dalam debat kusir yang tidak akan mendatangkan solusi. Jika niat berdakwah ingin membetulkan pemahaman Muslim Pro-Ucapan Natal, lakukan dengan cara yang sopan. Tapi lebih baik tidak perlu dilakukan jika ujung-ujungnya akan saling menyakiti. Toh banyak medan dakwah lainnya. Tidak mesti dalam hal ini. Masalah akidah juga urusan umat dengan Tuhannya dan cuma Allah yang tahu dan berhak menentukan apakah itu salah atau benar.

2. Teman-teman yang Pro-Ucapan Natal silakan ucapkan "Selamat Natal" dalam bentuk dan media yang benar. Tidak perlu mengungkit dan menghina kekolotan golongan Muslim Kontra Ucapan Natal. Jika anda mengucapkan "Selamat Natal" untuk menunjukkan anda lebih baik dari golongan Muslim Kontra Ucapan Natal karena anda punya toleransi, berarti anda salah. Niat anda salah. Sikap anda tidak ingin menunjukkan toleransi terhadap umat Kristen tetapi anda ingin mencari musuh dalam Islam. Saya perhatikan banyak kawan-kawan Muslim yang begini. Ini bahaya dan perlu diwaspadai. 

3. Ekstremisme dan Fanatisme tidak mempunyai tempat dalam Islam. Kadang musuh Islam bukan non-Muslim tetapi Muslim itu sendiri.

Pic from 8womendream


Sekian pendapat saya dan wassalam...



Tuesday, April 17, 2012

We should think about applying "tendenko" method of surviving disasters

10:23 AM Posted by Unknown No comments

Hi everybody

Yesterday earthquake might remain a nightmare for everybody, especially those in the areas affected. The huge tsunami that possibly generated by the enormous quake with 8.7 in Richter scale luckily did not strike. But the buzz about devastating 2004 tsunami might happen again terrified the people in Aceh province of Indonesia, and perhaps people in other places too. It made them panic. Well, it is normal to be panic in such situation but the most important thing to do is, run for your life. Save yourself first to survive.

Some Japanese ran to save their lives as Tsunami hit the country in March a year ago (pic from google)
Saving ourselves first when a disaster is happening is really important. It is not that we do not care of anybody or anything but we just want to make sure that we are safe, so that we can think ways to help others later. I find this brilliant method of surviving by Japanese people. It is called tendenko, or self-preservation. It teaches us how to rescue ourselves first when a disaster hit our living land. How is it? Simple, just run for your life--without worrying anybody and anything.

This simple yet tremendously helpful way of surviving disaster was coined by Professor Toshitaka Takada from Gunma University. It was taught to the people of Japan as a project of tsunami prevention. Even the school pupils know this method. Reportedly, the tendenko was behind the high rates of survival in Hama district of Kamaishi, Iwate prefecture. Although the district was right before the sea and hit by more than 30 meters high wave, none of school children were victimized in both quake and tsunami. They had been told to run uphill to save their lives when quake struck. Thus, the tsunami wave could not touch their skin, even an inch. Amazing, right?

It is crucial to teach children with such knowledge as children, in one hand, do not have worries as much as adults do. Hence, they can easily apply it during disasters. Moreover, they are young generations that have huge potential to build brighter future for the country. Thus they have to be rescued first. The adults, on the other hand, due to their life experiences and attached communal values, they have tendency to save the others. The possibility to use tendenko method may not be as  much as the children. However, if they care of themselves, and the others as well, they have to be safe at the first place. If they are safe, they have opportunities to help the other survivors. At the end, it will help to push forward the recovery efforts.

In my view, this tendenko method is terrific and could be used as a better solution to Japan and other tsunami-prone regions. Here in south east Asia, especially in Indonesia, as we live in the Pacific ring of fire, that our lives are potentially threatened by massive quakes and tsunami, we should start thinking of using this method. If everybody in disaster-affected areas could think of saving themselves first without worrying anyone and anything, everybody will survive and casualties could be minimized.


Sunday, January 15, 2012

The world is in a circumstance of overpopulation. ACT NOW!

11:50 PM Posted by Unknown No comments


The world is now in situation of overpopulation. Based on the census in 2010, world population is approaching seven billion. On late 31st October 2011, United Nation (UN) granted the babies who were born on  as “THE SEVEN BILLIONTH PEOPLE”. A newly-born Pyotr Nikolev from Russia was one of the babies who received a certificate as recognition for being the seven billionth world citizen. The United Nation added that world population would exceed seven billion starting from the day. It is hardly wrong in fact the world is really overcrowded as we can see in many developing countries, and in big cities in developed countries, seas of people are seen everywhere.

In 1960 world population was only three billion and it had doubled forty years later in 2010 to nearly seven billion. Back then, one billion people lived in industrialized world, which was western countries, and they were living better life because they had small family. They even lived healthier and wealthier. In contrast, the other two billion people lived in developing word had to face hard life, struggling for food every day. 

Then in 2010, when the population world became doubled, industrialized world had been much more developed. Whereas, two billion people of developing world remained the same. However, an emerging economic world appeared with more or less three billion people within. Those three billion people were quite well-educated and employed. This economy-driven world had been moving towards developed world with attempts to implement green technology and family planning to limit population. For instance, China which has implemented One Child Policy since forty years, given huge subsidy for education, and moved to industrialization, now becomes one of super power countries in the world. It seems population control is the answer for overpopulation crisis and other crisis related to it.

If population is not controlled by now, it is frightening when it comes to the year of 2050, population in developing world will reach four billion. It happens when the mindset of the people is still primitive, thinking to have as big family as possible. It is not impossible if the reality shows that majority of them do not have access to education and they only focus on dealing with hunger. If they can get access to well education so they know about green technology, family planning, and child survival, they will be living better life.

The child survival rate is actually the key of solution. With attempts to keep children alive well, it is not only to save the children but also the mothers which are women. Child survival is also related to infant mortality. Infant mortality can only be prevented by providing good nutritious food for women. Where the good food comes from? The best food comes only from nature. Frankly said, to keep humankind surviving, environment should be preserved sustainably. Therefore, humans have to start thinking to live sustainable life by minimizing family size and increasing child survival rate.

Back to 1960, only wealthier and healthier country which had 100% child survival rate. Poorer countries such as African countries have been facing very low rate of child survival. It is not surprising because those countries are living under poverty. The people are less educated, unemployed and even getting worse when they live in massive and unsustainable population. They are lack of knowledge of contraceptive. In fact they do not have access to contraceptive programs. Figure shows only one woman out of five that has access to contraception.

An international organization which promotes policies that improve the economic and social well-being of people around the world, called OECD or Organisation for Economic Co-operation and Development, has proposed a contraceptive program. The program is to give chances to every woman and man to get access to their contraceptive rights. It is significant for poor family to have a plan on how many children they want to have and how healthy the children are supposed to be. However, the program should be implemented equally by man and woman of the family. It has been an issue as well when many husbands refuse to do contraception and just let the program is done by the wives. It has impacts on gender and power relations between men and women. It is as if only women that are responsible to limit population while men are free to claim their sexual rights over the women.

World population, gender relation, and environment are definitely interconnected. If population keeps growing, nature has to be victimized to feed seven billion people. Humans change the landscape of earth and degrade biodiversity to build housing. Now, more than 30% of land is used for agriculture. Yet, starvation is still a major problem in poor countries. Twenty five thousand people die every day in 2003. Women and children are living under poverty, dealing with unpaid jobs every day, and having no time for their self-improvement.

Humans never realize that they are not very powerful creature. They need nature and education to build their technology for survival till present day. In past time, when food was provided by nature, humans started to build agriculture to produce more food. The agriculture then enables them to build towns and cities in order to give space to their descendants. From agriculture they move to industrialization to boost economy without their realizing that the industrialization is one of factors which booms population rapidly. It is so because industrialization causes urbanization when people of rural areas move to big cities to gamble their life for a plate of rice. When they are successful, they will produce children to keep their inheritance. Then their fellows back in villages will follow their step, moving to cities as well. That is the reason why big cities are becoming more and more overcrowded. 

In time, overpopulation drives overconsumption then leads to climate change.  Climate change occurs because people in the world have been too many and they are doing activities that harmful to environment. They produce fossil fuel to mobilize their daily transportation, especially in big cities, which emits tons of carbon dioxide and carbon monoxide that are enough to kill livelihood. They cut down trees and destroy animal habitats to build estates. Last but not least, overconsumption of natural resources is the critical factor that causes climate change too.

Religions have tried best to describe supernatural world, including the better way to live in huge population, which may be hard to digest with logic mind. Religions indeed encourage human to increase their number in order to have fruitful life. However, people themselves who cause all the problems related to overpopulation. They keep warming the earth. They abuse natural resources. Eventually they die due to natural disasters.

Overpopulation really is happening, yet no affirmative action has been taken. People are hiding behind denial. They deny that earth is sinking. They deny that world comes to the end. They deny their own truth of fear. They keep ignoring relevant issues about something bad has been happening on earth.

Overpopulation is a reality. It is a reality that drags people themselves to crisis of humankind. Solution and action have to be taken into account. People must have mindset of sustainable living. They have to stop population by now and focus more on women empowerment. Only through women empowerment, birth rate will be able to decrease and economic productivity can be achieved. Education should be determined as a public facility which poor people can get access to. Natural resources must be taken care well too. Environmental exploitation must be stopped. If there are demands of natural resources, green technology should be applied. All of these can be done if people unite together to take action.

*Pic from Google

Wednesday, January 11, 2012

Brand loyalty and friend loyalty

11:44 PM Posted by Lily Rofil No comments

It hurts when your friends are not around while you need them. Yeah, that means your friends are not loyal to you.

Friends are brands, brands are friends. Yes it is real. I do not mean to say that what your favourite brands are likely friends to you. Of course it is sometimes true. But here I am talking about the similarities of  friends and brands.

They are the same. They have similar characteristics. Want to know what it does mean? Here we go

A brand has to seem salient to its customers. Like a friend has to be important in the eyes of his friends in his friendship. So that it will create loyalty in brand-to-customer as well as friend-to-friend. Then, what are required to make them salient? When a brand becomes prominent to its loyal customers, it has awareness, interest, assurances, consistency, and habitual choosing on the customers perception.

When we feel our friends important, that because they are always aware towards us. They have sympathy and empathy to us. They expose many times infront  of us whether or not we need them.

They have to be interesting to us as well. They should be amazing as they are and at the same time they are unique on eyes of ours. That will be make us interested to them, isn't it?

A friend, too, should assure us not to regret being friends with him or her. When we with them, we have to be feeling comfortable, enjoyable, fun, beneficial, and safe. That means a friend has to have a good quality to be called as a friend.

Everything needs consistency. Like a friend, she or he needs to be consistent with what they are believing, practicing, and performing in front of us. When they suddenly change, automatically we will feel there is something wrong with them.

Last but not least, a friend requires habitual choosing. It's meaning She or he should have choice of good in friendship.

With those five, a friend, or you, will seem important to your friends. What happens next is you will loyal to them, they will loyal to you.

If you are loyal to a brand, you will seek it when you need it, right? But sometimes you will find other people (not your gang) to be with you or to ask for. Or maybe you do not really loyal to your friends again, that's because of what?

It can happen. Yes. Like a brand, it could have lost its loyal customers for a while if it is out of stock. When our friends are out of stock, meaning they are not around, we simply find other people to get along with.

When a customer feels bored with his/her favourite brand, s/he will look for a variety of brands to get rid of their bore. Like us, we will seek for other people outside the gang just to find another fun.

 And, if other brands seem more attractive with better offers, a loyal customer will be likely to switch their prefferance. Like your friends, if you are too boring while others are getting interesting, they will get away from you.

The last one, in marketing there is always competition. A new brand will always try very hard to attract its customers. By setting balance to your favourite brand in such a way to make you not firm to your favourite anymore. In friendship, there are always other people make themselves special to your favourite friends just because they do not them to really loyal to one person only, you.


So, remember, Friends, make you always important to your friends in order to make them loyal to you. You too, need to find the importance of your friends to be loyal to them.

Nilai estetika masyarakat Jawa sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia

11:42 PM Posted by Lily Rofil No comments

Potret Estetika Masyarakat Jawa
Masyarakat Jawa merupakan bagian dari sekian juta masyarakat Indonesia yang mempunyai tradisi menarik, unik dan kental akan nilai mistis. Ini terbukti dengan banyaknya hal-hal yang dikeramatkan salah satunya wayang. Wayang adalah salah satu mitos yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai penggambaran hidup bermasyarakat mereka. Wayang memiliki peranan penting dalam masyarakat Jawa karena dianggap sebagai simbolisasi pencapaian kesempurnaan hidup. Sebagai mana yang kita ketahui masyarakat Jawa sangat kental kepercayaannya terhadap tradisi Jawa. Apa yang menjadi aturan dalam tradisi mereka sangat dipegang teguh dan seolah-olah wajib dilaksanakan dengan tujuan dapat tercapainya tujuan hidup yang sesungguhnya. Dan apabila ditinggalkan, mereka percaya bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Inilah yang menambah nilai mistis dari tradisi Jawa.

Kembali ke persoalan wayang yang mewakili potret kehidupan masyarakat Jawa. Wayang menurut serat Centini berfungsi sebagai cerminan manusia di dunia yang menggambarkan proses hidup dalam kurun waktu terbatas dari putaran hokum sebab akibat, yang dalam konsep Jawa disebut ‘cakra manggilingan’. Nilai keestetikan wayang dapat memberi inspirasi bagi pengarang sastra Indonesia mutakhir. Bahkan tak jarang nilai eksplorasi estetik terhadap wayang dalam sastra Indonesia dapat menghilangkan nilai mitos lama pada dimensi diri wayang itu sendiri. Beberapa pengarang modern Indonesia memanfaatkan wayang sebagai pemberi warna estetika karya-karya mereka. Putu Wijaya misalnya, me-remake cerita Mahabarata pada episode perang Barata Yudha dan menuangkannya dalm novel modernnya yang berjudul Perang. Burung-burung Manyar dan Durga Umayi dari J. B. Mangun Wijawa memanfaatkan alur, aspek pertunjukan, dan tokoh pewayangan.  Cerpen Umar Kayam juga memanfaatkan tokoh-tokoh citraksi wayang. Lakon Parkesit menginspirasi Goenawan Muhammad dalam sebuah puisi panjangnya sedangkan mitos lakon wayang Ramayana  tertulis rapi dalam kitab Omong Kosong karangan Seno Gumira Ajidarma.

Sejatinya wayang hanyalah salah satu dari sekian banyak kebudayaan di Jawa. Namun wayang mampu mewakili ciri khas kehidupan masyarakat Jawa secara menyeluruh. Penggambaran kerukunan antarlelakon wayang yang tervisualisasikan melalui media wayang mampu memberi amanat kepada penonton bahwa masyarakat Jawa sangat menjunjung nilai kebersamaan yang tinggi. Orang Jawa sangat menghargai persamaan di antara masyarakatnya walaupun secara logika persamaan itu terkadang sangat tidak bisa diterima secara akal sehat. Namun  justru itulah letak keestetikan masyarakat Jawa. Dan nilai estetik itu tampak pada setiap budaya dan tradisi Jawa.

Estetika Jawa Bagian dari Seni Budaya Indonesia
Indonesia sebagai Negara yang  memliki masyarakat majemuk dengan berbagai suku bangsa telah melahirkan banyak kebudayaan yang sangat digemari di dalam maupun luar negeri.  Kesenian tradisional begitu melekat pada setiap daerah yang menonjolkan keaslian daerah masing-masing. Aceh terkenal dengan tari Saman yang menggambarkan kekompakkan dan keteraturan puji-pujian kepada Sang Khalik. Betawi semakin semarak dengan kemeriahan Ondel-ondelnya. Tari kecak Bali memberi daya tarik wisatawan baik local maupun asing sedangkan Gamelan Jawa turut memperkaya khasanah musik Nusantara yang tidak tanggung-tanggung ternyata sangat popular sampai ke luar negri. Semua kesenian yang bernilai estetik tinggi tersebut merupakan kekayaan seni budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan dipertahankan demi menjaga identitas Negara kita.

Terlepas dari begitu banyaknya kekayaan seni budaya Indonesia, kesenian dan kebudayaan Jawa  muncul sebagai salah satu kebudayaan Indonesia yang paling menonjol. Sebagaimana yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai tradisi Kejawennya. Kearifan dan kelembutan tingkah laku masyarakat Jawa memberikan corak tersendiri bagi bangsa ini. Jika kita kembali ke masa orde baru, di mana  masa itu merupakan masa kejayaan Rezim Soeharto yang notabenenya orang jawa asli. Pak Harto kala itu sebagai pemimpin yang terkenal otoriter namun sangat memperhatikan rakyat kecil, mampu menciptakan image “sopan” bagi bangsa Indonesia di mata dunia. Ini dilakukan Oleh Presiden kedua RI itu dengan cara menggunakan jasa pelayanan orang jawa sebagai penerima tamu di hotel-hotel besar yang sering dijadikan tempat menginap tamu-tamu negara. Masyarakat Jawa sangat dihargai dengan segala tradisinya sebagai wujud bakti beliau terhadap bumi pertiwi tercinta. Pada waktu itu dan mungkin sampai sekarang, masyarakat Jawa masih mempertahankan tindak laku yang alus tetapi masih mempunyai nilai seni. Segala bentuk upacara adatnya sarat akan nilai etika sebagai tuntunan dan estetika sebagai tontonan. Jawa adalah milik Masyarakat Jawa dan milik bangsa. Bagaimanapun Jawa merupakan kampung halaman orang Indonesia dan Estetika  Jawa merupakan bagian dari kekayaan seni budaya Indonesia.

Pandangan Beberapa Ahli mengenai Estetika Jawa/Indonesia
1.    Jacob Soemarjo
Jacob Soemarjo merupakan sastrawan sekaligus pengamat budaya ternama di negeri ini. Banyak pendapat dan tulisannya menjadi panutan masyarakat pecinta budaya yang lain. Setiap kalimatnya sangat berpengaruh dan sarat akan nilai moral serta budaya tinggi. Seperti salah satu tulisannya yang berjudul Satrio Piningit berada di antara kita yang ditulis pada masa awal reformasi di Indonesia. Menurut beliau, tokoh-tokoh politik Negara pada saat itu merupakan tokoh-tokoh yang berkepentingan secara kontekstual dan bukan yang seharusnya yaitu universal. Mereka dengan segala kepentingannya berdasarkan kebutuhn golongan, massa tertentu dan dengan tujuan tertentu pula. Teori yang mereka ucapkan juga terbilang “unik” dengan dalih lebih mengutamakan kami dari pada kita yang merujuk pada kepentingan orang banyak. Jacob juga mengatakan bahwa oraang yang bisa dipercaya saat itu dan mungkin sampai saat ini adalah orang yang bisa diterima oleh semua golongan dan massa dengan kata lain yaitu orang yang universal. Orang-orang semacam inilah yang oleh Jacob Soemardjo disebut Satrio Piningit di mana mereka bisa saja muncul dalam berbagai kejutan di luar dugaan semua orang.  Justru orang-orang seperti itu merupakan orang yang tidak kita kenal akan tetapi sudah sangat jauh berperan demi kepentingan masyarakat  banyak. Penggambaran sosok satrio piningit yang digambarkan oleh Jacob setidaknya memunculkan pemikiran kepada sebagian orang bahwa seperti itukah seorang pemimpin seharusnya?

Secara tidak langsung, sosok satrio Piningit yang digambarkan oleh Jacob telah mewakili kepribadian orang Jawa yang sesungguhnya yaitu lebih sedikit bicara dan banyak kerja dan yang lebih penting lagi yaitu kerja demi kepentingan orang banyak, demi sesuatu yang dinamakan kebersamaan. Suatu konsep keindahan di Jawa menurut Jacob adalah sesuatu yang bisa membawa kebaikan pada banyak orang tanpa harus memprioritaskan identitas. Oleh karenanya Jacob sangat menyenagi sesuatu yang merakyat. Baginya kehidupan yang merakyat bisa membawa kebahagiaan secara spiritual meski dalam keterbatasan materiil. 

2.    Clifford Geertz
Clifford Geertz bukanlah orang Indonesia atau Jawa asli tetapi pengetahuannya mengenai Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Lahir di San Francisco 23 Agustus 1965 dengan nama asli Clifford James Geertz, ia  merupakan ahli antropologi yang sangat menggemari kehidupan masyarakat Indonesia dan Maroko. Ketertarikannya terhadap bidang agama terutama agama islam, perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional serta kehidupan desa dan keluarga membawanya pada kecintaannya terhadap kebudayaan Jawa. Ia memulai penelitiannya terhadap masyarakat Jawa pada tahun 1960-1n dan merupakan orang yang pertama kali mempopulerkan kata priyayi.

Geertz mengelompokkan masyarakat  Jawa dalam tiga golongan yaitu priyayi, santri dan abangan. Tiga golongan itu menurut Geertz merupakan kelompok cultural penting dalam masyarakat Jawa di mana priyayi merupakan kategori kelas sedangkan santri dan abangan merupakan kategori agama.  Tradisi keselamatan di Jawa menurut Geertz adalah tradisi local semata dan tidak berhubungan dengan pengaruh ajaran normative islam. Namun pendapat ini kurang disetujui oleh sebagian besar masyarakat Jawa sendiri karena mereka menganggap tradisi lokal mereka juga merupakan perwujudan pengamalan ajaran normative islam. Geertz juga menemukan bahwa perkembangan islam di Jawa lebih akomodatif dan sinkretik.

Dari beberapa pernyataan Geertz mengenai Islam dan perkembangannya dalam masyarakat Jawa dapat disimpulkan bahwa, konsep keestetikan masyarakat Jawa menurut Geertz yaitu suatu padu-padanan kehidupan antara kelas dan agama yang bersatu dalam keragaman budaya dan kerukunan warga.

Estetika Islam menurut pandangan tokoh Islam Timur Tengah dan Indonesia

11:28 PM Posted by Lily Rofil No comments

Estetika dalam Seni Islam
Islam, seni dan estetika sangat erat hubungannya. Sifat dinamik ajaran Islam memperbolehkan umatnya menghayati keindahan dalam pelbagai bidang tidak hanya seni saja. Seperti yang kita bahas pada bab sebelumnya, Islam meletakkan pengaruhnya pada setiap cabang seni, bahkan ikut menentukan arah perkembangan seni dunia. Seni Islam yang banyak mengandung unsur sakral meletakkan nilai estetika Islam sebagai estetika suci yang dekat hubungannya dengan sifat-sifat Allah. Sedangkan Seni yang telah dirancang oleh filsuf barat, seni profan, jauh dari spirit wahyu bahkan lepas sama sekali dari kaca mata keagamaan dan tentu saja mengandung sekulerastik akut. Barat sebagai pemerhati seni, menurut schuon, tidak bisa menentukan arah perkembangan seni itu sendiri karena bagi mereka, segala yang bisa disebut keindahan adalah anugrah alam semesta kepada manusia untuk dinikmati sebagai pelampiasan hasrat nafsu badaniah semata. Dalam pandangan Kristen misalnya, seni hanya dianggap sebagai media untuk menyalurkan aspirasi terpendam dan bukan sebagai bentuk persembahan agung pada sang pencipta. Banyak karya seni dan kriya hasil budaya Barat lebih menonjolkan bentuk lekuk tubuh wanita telanjang bahkan sedang melakukan persetubuhan. Dari sini muncul pertanyaan, apakah keindahan dari seni hanya berasal dari keindahan lekuk tubuh wanita saja? Jawabannya tentu bukan. Islam tidak mengajarkan tentang hal seperti itu. Seni dalam Islam lebih menonjolkan nilai suci (sakral)yang bisa dilihat nilai estetiknya. Nilai estetik Islam sendiri lebih menonjolkan satu-kesatuan bentuk yang berulang-ulang sehingga tercipta sesuatu yang harmonis dan seimbang. Keteraturan itu menggambarkan seni sebagai pengantar jiwa manusia ke Tuhan, ke Allah.

Dalam buku Estetika Islam oleh Oliver Leaman menyebutkan tiga argumen kuat yang menentang penggunaan seni dalam budaya Islam yaitu, penggambaran visual yang kreatif berakibat pada dikuasainya akal pikiran, pemusatan pada gambaran yang menghambat pemahaman hakikat segala sesuatu, dan yang terakhir yaitu bahwa nabi mencela segala bentuk pemberhalaan. Hal tersebut menjelaskan bahwa seni dan estetika Islam sangat menghargai dan memikirkan tentang hubungan kreatifitas otak manusia dengan moralitas untuk menghasilkan karya yang indah, suci dan bisa dihargai sebagai karya seni yang sebenarnya.

Seni dalam Islam bisa diartikan sebagai sebuah upaya untuk menuturkan kebesaran Ilahi yang mengungkapkan pelbagai aspek kehidupan terutama esensi ketauhidan karena segala sesuatu melantunkan puji-pujian bagi yang Esa. Dapat disimpulkan bahwa kejamakan pada akhirnya dapat direduksi menjadi ke-Esaan.

Beberapa hal yang menyangkut tentang gambaran dunia yang disajikan Al Quran dan pengaruhnya terhadap estetika, khususnya karya sastra, musik dan seni rupa salah satunya menjelaskan bahwa dalam Al Quran dinyatakan alam semesta, juga pribadi manusia, di mana ayat-ayat-Nya terbentang, diumpamakan sebagai kitab agung atau sebuah karya sestra yang ditulis oleh Sang Pencipta dengan kalam-Nya di atas lembaran terpelihara. Berdasarkan pandangan tersebut, para sufi memberikan pendapatnya mengenai fungsi seni yaitu, seni adalah pembawa nikamat mencapai keadaan jiwa yang damai dan menyatu dengan keabadian yang abadi. Seni juga sebagai pembebasan jiwa dari alam benda melalui sesuatu yang berasal dari alam benda itu sendiri. Fungsi seni yang lain yaitu sebagai penyucian diri dari pemberhalaan terhadap bentuk-bentuk itu sendiri. Fungsi keempat yaitu untuk menyampaikan hikmah, yaitu kearifan yang menbantu kita bersifat adil dan benar terhadap Tuhan. Seni juga berfungsi sebagai sarana efektif untuk menyebarkan gagasan pengetahuan, informasi yang berguna bagi kehidupan seperti pengetahuan dan informasi yang berkenaan dengan sejarah, geografi,hokum, undang-undang, adab, pemerintahan, politik, ekonomi, dan gagasan keagamaan. Fungsi yang terakhir yaitu, karya seni juga merupakan cara untuk menyampaikan puji-pujian kepada yang Maha Esa.

Dalam hadist Rasulullah menyebutkan Allah itu Indah dan menyukai keindahan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa estetika juga ada dan berpengaruh penting dalam Islam dan seni.

Estetika Menurut Pandangan Sayyid Hussein Nasser
Estetika dalam Islam mempunyai banyak pengertian. Salah satu pendapat mengenai estetika Islam yang terkenal datang dari Ibnu Arabi Hossein Nasser atau yang lebih dikenal Sayyid Hussein Nasser. Hussein Nasser mengistilahkan kemampuan berbahasa atas serapan pengalaman mistik itu sebagai scientia sacra (tradisi seni suci) yang memandang realitas tertinggi itu sebagai kemutlakan, ketakterbatasan dan kesempurnaan atau kebakaan. Keindahan yang dihubungkan dengan semua hipotesis tentang riil merupakan refleksi kemutlakan dalam keteraturan dan tatanan ketakterhinggan dalam pengertian batin dan misteri, yang menuntut kesempurnaan. Dengan kata lain, keindahan menurut Sayyid Hussein Nasser adalah suatu bentuk keteratuaran yang tak terbatas untuk mencapai kesempurnaan Ilahi.

Filosofi Estetika Al Ghazali
Abu Hamid Muhammad Alghazali Altusi adalah seorang tokoh ulama' yang
luas ilmu pengetahuannya dan merupakan seorang pemikir besar dalam sejarah falsafah Islam dan dunia. Kitab Ihya Ulumuddin merupakan karyanya yang terkenal yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.

Keindahan merupakan landasan dari seni. Berdasarkan pernyataan itu, Al Ghazali membagi keindahan menjadi beberapa tingkat yaitu, keindahan inerawi dan natsani (sensual) yang disebut juga keindahan lahir, keindahan imajinatif dan emotif, keindahan aqliyah atau rasional, keindahan ruhaniah atau irfani, dan yang terakhir yaitu keindahan ilahiyah atau transendental. Dua keindahan terakhir dari Al Ghazali tersebut itulah yang biasanya dieksplorasi oleh para sufi dalam setiap karyanya. Secara teori, imajinasi puitis sebenarnya merupakan sarana prinsip para penyair mistikus untuk membawa pembaca ke suatu pengertian tentang wahyu kenabian. Sedangkan keindahan ruhania dan irfani (mistikal) dapat dilihat dalam pribadi nabi. Nabi merupakan pribadi yang indah bukan semata-mata disebabkan kesempurnaan jasmani dan pengetahuannya tentang agama dan duia, melainkan karena akhlaknya yang mulia dan tingkat makrifatnya yang tinggi.

Pendapat Nurcholis Majid Mengenai Estetika Islam
Bahasan tentang estetika Islam tidak hanya datang dari wilayah Timur Tengah yang terkenal dengan sufi-sufi maupun pemikirnya. Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya dan merupakan negara mayoritas berpenduduk muslim juga memiliki pemerhadi terhadap estetika Islam. Salah satu pemerhati tersebut adalah Dr. Nurcholis Majid.

Nurcholis Majid atau yang biasa disapa Cak Nur merupakan cendekiawan muslim dan merupakan ikon pergerakan muslim di Indonesia. Gagasannya tentang pluralisme yang menjelaskan tentang interaksi antarkelompok dengan mengedepankan rasa hormat dan saling toleransi tanpa konflik atau asimilasi. Paham pluralisme Cak Nur setidaknya melarang segala tindakan diskriminasi terhadap non-muslim. Cak Nur berpandangan bahwa manusia hidup dalam keberagaman termasuk keberagaman beragama. Dalam Al Quran sendiri telah dijelaskan bahwa umat muslim harus bisa menjaga toleransi beragama debgan umat agama lain. Cak Nur meyakini Islam adalah agama pada tiap masa dan tempat sebagai definisi universal Islam itu sendiri.

Cak nur membedakan antara keberagaman simbolik dan keberagaman subtansial. Cak nur menentang keras terhadap simbolisme yang berlebihan dalam keberagaman walaupun dia juga tidak menegasikan pentingnya simbolisme. Tanpa simbol orang tidak mungkin bisa mencapai yang Ilahi. Ini menjelaskan bahwa suatu keberagaman juga bisa dinilai sebagai nilai estetik terutama keberagaman simbol.

Estetika Islam dari Sudut Pandang Sayyid Qutub
Sayyid Qutub Ibrahim Hussein Syazili, lahir pada 9 Oktober 1906, di Mosyah, dalam wilayah Asyut. Beliau merupakan pemikir, pujangga, penulis, sasterawan, juga ulama ulung di Mesir pada kurun ke-20. Sebagai penulis, Sayyid dikatakan paling banyak dicetak bukunya. Karyanya masih terus diterbitkan hingga kini malah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Terutama tafsirnya “Fi Zilalil Quran” (Di Bawah Lindungan al-Quran) yang dianggap ‘karya agung’ oleh kebanyakan ulama. Sebagaimana petikan mukadimah tafsir tersebut yang berbunyi: Kehidupan di bawah lindungan al-Quran itu nikmat. Nikmat yang tidak akan dinikmati selain orang yang merasakannya.

Sebagai muslim yang total mempersembahkan hidupnya hanya untuk Islam, Sayyid Qutub memiliki keyakinan yang kuat tentang kebenaran tauhid. Keyakinannya itu tetap bertahan meskipun ia mendekam dalam penjara atas fitnah kudeta yang tidak pernah ia lakukan. Meskipun akhir hidupnya dinikmati di penjara, Sayyid Qutub tidak berhenti menulis karya terutama karya sastra. tulisan sastranya yang indah mengisyaratkan keadaan ruhani dan pikirannya. Baginya keindahan itu berasal dari sifat ruhani manusia dalam memahami arti hidup dan Islam terutama.

What kind of friends are you?

11:15 PM Posted by Lily Rofil No comments


Readers, have you ever imagined if you never have friends even one in your whole life? I am sure there is no one undergoes that such experience. Friendship, of course, is as important as your life. But if you get irritated by your friends, what do you think?

I will be thinking, what kind of friend am I so I deserve that. Yes, for me, quantity of friends and quality of friendship are reflecting what I present in front of them. If I am completely arrogant, can you think how many friends will I have? Luckily I have adequate friends whom embrace me whenever I am around.

I simply do not care what others use to attract as many as friends. I have my own ways to get people called “friends”. Some may use their sexual appeals to gain a lot of pals, some may use their outer appearance, wealth, power or influences, or some prefer to use their personality.
I, myself, tend to use my personality. What kind of personality is that? It cannot say that I have perfect personality, but I just perform what I think best to perform in front of people. As Uncertainty Reduction Theory says, that people will try to deliver good “appearance” when they meet new people, so that those new people will decide whether or not they will continue being friends by reducing uncertainty of ours. Of course if we show good manners and keep up with it, strangers will think we are really good persons. Then, we will be friends for longer time. How if we perform good things in the beginning of friendship only? Definitely new friends will stay no longer.

Fortunately, I have many kinds of friendship which last until now and I will keep it up till forever. Thank God, You send me people like Anggia Hapsari, Failasuf Filantrofi, Rima Anisa Widyaningrum, Eka Nur Arifah, Pramadita Eka Putri, Istiadah, Wafirah Mufidah, Evi Karlina, Iffah Mazidah, Nindya Ratna Bidari, Shahrimah, Syakirah, Azwyn, Nurul Idayu, and many more. They are my truly friends, they are my angels.

So, what kind of friends are you?


*Pic from Google


Children learn what they live

11:05 PM Posted by Lily Rofil No comments


If a child lives with criticism,
he learns to condemn.
If a child lives with hostility,
he learns how to fight.
If a child lives with ridicule,
he learns to be shy.
If a child lives with shame,
he learns to feel guilty.
If a child lives with tolerance,
he learns to be patient.
If a child lives with encouragement,
he learns to be confident.
If a child lives with praise,
he learns to appreciate.
If a child lives with fairness,
he learns justices.
If a child lives with security,
he learns to have faith.
If a child lives with approval,
he learns to like himself.
If a child lives with acceptance and friendship,
he learns to find love in the world.

By Dorothy Law Nolte